Presiden La Liga Minta PSG Ditendang dari Liga Champions

Presiden La Liga Javier Tebas menyebut Paris Saint-Germain telah bertindak curang secara ekonomi dan meminta agar raksasa Ligue 1 itu dicoret dari Liga Champions.

Javier Tebas merencanakan menyeret FIFA ke pengadilan untuk keputusan mereka memperluas peserta Piala Dunia menjadi 48 negara

Javier Tebas tuduh Paris Saint-Germain telah melanggar regulasi Financial Fair Play (FFP), sehingga pantas untuk ditendang dari Liga Champions musim ini.

Les Parisiens pecahkan rekor Paul Pogba sebagai pesepakbola termahal dunia, saat PSG membayar klausul buyout Neymar dari Barcelona yang dipatok Rp3,5 triliun. Tak berapa lama kemudian, PSG tertarik memboyong Kylian Mbappe, walau akhirnya pemain muda itu didatangkan dengan status pinjaman dari AS Monaco.

Walau demikian kedua klub sepakat untuk permanenkan status Mbappe di Parc des Princes pada musim panas tahun depan, dengan mahar sebesar Rp2,8 triliun.

UEFA selaku otoritas sepak bola tertinggi di Benua Biru itupun langsung membuka investigasi untuk melihat adanya bukti kejanggalan antara pemasukan komersial PSG dengan klub-klub kaya Eropa lainnya.

Javier Tebas pun selalu suarakan kecurigaannya, demi melindungi klub-klub asal Spanyol setelah Barcelona kehilangan salah satu pemain terbaiknya. Tebas tak segan-segan bandingkan pemasukan PSG dengan Bayern Munchen, Manchester United, Real Madrid dan juga Blaugrana – yang didaulat sebagai klub-klub dengan pemasukan terbesar di dunia.

“Dalam lima tahun terakhir, kita melihat PSG dan Manchester City menjadi klub-klub yang berani kucurkan dana besar untuk membeli pemain-pemainnya,” ujar Tebas pada L’Equipe.

“Karena pemasukan nyata mereka tidak bisa melakukan investasi besar seperti itu, keduanya menciptakan sponsor-sponsor fiktif, yang punya kaitan dengan negara [Qatar] dengan jumlah yang tidak sesuai pasaran,” tambahnya.

“Kita bandingkan pemasukan PSG dan City dengan Madrid, Barca, United dan Bayern. [Dan] Keduanya masih tetap unggul. Di PSG, pemasukan sponsorship ada kaitannya dengan Qatar, baik secara langsung atau tidak, dan jumlahnya lebih besar dari Manchester United. PSG terus bertindak curang secara ekonomi,” ujar Tebas.

“Jika kita biarkan seseorang yang bertindak curang untuk terus berkompetisi, maka akan menyakiti klub-klub lainnya. Andai PSG masuk ke final Liga Champions dan kemudian dihukum [melanggar FFP] maka akan membuat klub-klub lain kecewa. [Dikhawatirkan] klub-klub yang disingkirkan PSG akan ikut-ikutan curang,” tegasnya.

“Jika kita melihat mereka bertindak curang secara ekonomi, kenapa tidak mencoret mereka? Ketika seorang pembalap sepeda dituduh melakukan doping, ia langsung dicoret dari perlombaan. Saya rasa pengecekan harus dilakukan sebelum kompetisi dilakukan, bukan sesudahnya. Jika tidak maka kompetisi akan rusak,” ujar Tebas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here